Senin, 25 Juni 2012

“Kuhantukkan Kepalamu ke Dinding”


“Kuhantukkan Kepalamu ke Dinding”


Sebuah cerita yang saya ikutsertakan dalam sebuah kompetisi menulis di @Nulisbuku dan Biovision. Pengalaman pertama saya menjadi seorang peserta dan mendapatkan sebuah kebanggaan sekaligus dikarenakan tulisan saya termasuk menjadi salah satu finalis terbaik walaupun tidak menjadi pemenang utama. Pengalaman. 

Tidak menjadi pemenang,hanya menjadi finalis bkn berarti harus berhenti nulis.


Menikmati sebuah pendidikan yang bagus dan bermutu merupakan idaman semua orang tidak terkecuali dengan Aku. Aku dan ratusan siswa lulusan SMP bersaing hanya untuk memperebutkan satu buah bangku di sekolah lanjutan menengah atas di sebuah kota besar di Indonesia, Medan. Sebuah awal perjuangan yang berat untuk dilewati mengingat sekolah yang menjadi incaranku merupakan salah satu sekolah menengah atas negeri yang digaung-gaung sebagai salah satu sekolah negeri terbaik di kota Medan. SMU negeri 4. Namun, sebuah pengertian dari terbaik terkadang menjadi rancu ketika sebuah pendidikan hanya dinilai berdasarkan persepsi manusia awam saja dan tidak pernah ada sebuah parameter dan hasil dari pengukuran tersebut yang bisa membuktikan bahwa pendidikan itu memang baik. Semua berdasarkan ‘menurut mereka’, atau ‘dulu...sih’. Terjebak.

quote
Sebuah pendidikan tidak lepas dari sebuah mata rantai yang saling berkesinambungan satu dengan yang lain. Rangkaian mata rantai itu diantaranya adanya organik pengerak pendidikan, sebuah institusi pendidikan, dan sistem pendidikan yang mumpuni itu sendiri. Tidak dapat dicerai beraikan salah satunya. Tanpa salah satu dari mata rantai tersebut, sebuah pendidikan yang baik tidak bisa terwujudkan sebagaimana mestinya. Ibarat sebuah mobil tanpa ban. Cacat.
Sebuah proses pendidikan yang paling mendasar adalah adanya proses belajar mengajar antara pengajar dan orang yang diajar itu sendiri. Guru dan murid. Karena dari keduanya inilah sebuah organik dari sebuah pendidikan itu dapat dimulai. Sebuah transfer pengetahuan dan proses pembelajaran dimulai. Di lain itu, proses pentransferan pengetahuan juga harus ditopang oleh adanya sebuah institusi pendidikan yang baik. Sekolah atau kursus. Sebuah institusi pendidikan yang baik sehingga mampu menghasilkan cendikia-cendikia muda penerus bangsa yang berhasil dan bersinar di segala bidang ilmu. Namun, untuk memunculkan cendikia yang bersinar harus ditopang dengan adanya bangunan, fasilitas, serta aspek pendukungnya sehingga memungkinkan sebuah pendidikan tersebut dapat berjalan dengan baik.  Tersedianya sarana pendukung proses pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhan proses pentransferan pengetahuan antara guru dan murid sehinga keduanya dapat menjalankan fungsinya masing-masing dengan baik sehingga hasil yang diharapkan juga dapat maksimal. Pendidikan akan menjadi sempurna ketika ada organik pendidikan itu, Entah itu pendidikan bersifat formal ataupun informal dapat menjalankan proses pentransferan pengetahuan tanpa sebuah cela.
Apabila dua rantai tadi sudah terpenuhi sehingga rantai yang ketiga juga harus terpenuhi juga yakni adanya sebuah sistem pendidikan yang mengakomodasi kedua rantai tersebut. Seperti slogan pendidikan nasional di Indonesia saat ini dan dikutip dari tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara, Tut Wuri Handayani, yang berarti belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan. Karena dengan dorongan dan arahan inilah seorang guru menjadi sosok panutan dan tolak ukur bagi murid-muridnya. Seorang guru yang menjadi penopang dalam sebuah pendidikan harus mampu mendorong murid-muridnya untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik melebihi gurunya itu sendiri terutama dalam akademis pengetahuan, entah itu yang terukur (kualitatif) ataupun tidak (kuantitatif). Selain itu, seorang guru juga mampu mengarahkan murid-muridnya untuk berjalan dalam sebuah rel pendidikan yang benar. 
Sebuah sistem pendidikan yang masih dipegang teguh hingga saat ini dengan mengisyaratkan keberhasilan sebuah pendidikan dalam proses pentransferan pengetahuan tidak terlepas dari keberadaan seorang guru yang mampu sebagai sosok yang dapat digugu dan ditiru oleh murid-muridnya. Karena dari merekalah, cendikia-cendikia muda penerus bangsa dihasilkan. Bukan hanya pintar dalam akademis ataupun pengetahuan namun pintar dalam akhlak. Cendikia yang mampu menaikan harkat dan martabat bangsanya sendiri agar lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya.
unquote

Terjebak dalam sebuah pendidikan yang berdasarkan slogan “menurut mereka” telah menjebakkan saya dalam kondisi tersebut. Akhirnya saya masuk seleksi awal dari penerimaan murid baru di sekolah ini. Satu diantara 210 siswa SLTP yang layak menghuni sekolah ini selama 3 tahun kedepan nantinya. Sekolah yang katanya sekolah negeri terbaik saat ini. Setiap anak termasuk saya dikelompokkan dan dibaurkan dengan murid lainnya berjumlah 30 orang. Terkecuali untuk 60 anak dengan nilai EBTANAS terbaik. Mereka akan dibagi menjadi 2 kelas yakni unggulan dan bayangan. Sedangkan saya tidak termasuk didalamnya. “Naseb, dengan nilai EBTANAS yang standard..”, pikir saya. Namun, hal ini tidak menjadi nilai kurang saya untuk bersekolah di SMU negeri ini. Saya memotivasi diri saya, selama 3 tahun ke depan nanti, saya harus bisa menjadi salah satu murid yang berada dalam lingkungan ‘elite’ karena nilai akademisnya. Entah itu di kelas unggulan atau bayangan, tapi saya harus bisa. Karena bagi saya, bergaul ataupun berteman yang memiliki kelebihan memberikan manfaat lebih dibandingkan dengan jika saya hanya berteman dengan yang kurang memiliki kelebihan ataupun biasa. Bukan untuk mengecilkan atau menjauhkan teman-teman yang memiliki keterbatasan namun seseorang akan mampu meningkatkan motivasinya untuk menjadi lebih baik apabila berada dalam lingkungan yang memiliki tingkat persaingan yang ketat. Saya akan berusaha untuk merengkuh dengan segala cara apapun untuk sebuah hasil akhir. Awalnya.

Selama 2 tahun saya bersekolah dan belum dapat menjadi bagian kaum unggulan tersebut namun tidak menyurutkan motivasi di awal tahun saya bersekolah. Sabar. Saya diajarkan untuk bersabar sambil mempersiapkan diri untuk bisa bergabung dan bersaing. Tidak memalukan diri sendiri apabila nantinya sudah menjadi bagian tersebut. Hingga masa-masa ‘persiapan’ saya terjadi di tahun kedua atau di kelas 2 ini. Saya mendapatkan seorang guru yang benar-benar mampu mentransfer pengetahuanya dengan baik kepada murid-muri yang diajarnya. Beliau adalah Ibu Sinambela. Begitu saya dan murid-murid lainnya memanggilnya. Seorang guru Bahasa Indonesia yang berpenampilan selalu rapi dengan rambut keritingnya yang tidak terlalu panjang. Serta selalu disematkan jepitan rambut untuk menghilangkan kesan keriting dari rambutnya. Dengan ukuran tubuh yang tidak terlalu tinggi sehingga sepatu pantofel berhak yang tidak terlalu tebal mampu memanipulasi agar terlihat ‘lebih’ tinggi. Seorang guru yang mengajar sebuah pelajaran yang mungkin dianggap ‘sepele’ oleh banyak murid namun di pelajaran inilah banyak siswa yang terjatuh saat menghadapi ujian. Pelajaran Bahasa Indonesia.

Pelajaran yang sepertinya mudah namun ketika dihadapi juga tidak mudah. Tetapi di tangan beliau, Ibu Sinambela, pelajaran ini menjadi terasa mudah. Tidak hanya untuk dihafal ataupun diingat saja tetapi untuk dipahami. Sebuah pengetahuan akan lenyap ketika hanya berdasarkan penghafalan bukan pemahaman. Otak memang difungsikan sebagai harddisk dalam organ tubuh manusia, namun memori tersebut tidak akan mampu bertahan lama jika otak hanya difungsikan sebagai alat penghafal.

Di tangan Ibu Sinambela, pelajaran ini awalnya sebagai sebuah momok bagi murid-murid yang diajarnya termasuk saya. Bagaimana tidak, setiap beliau mengajar dipastikan detak jantung setiap murid-murid akan berlari sekencang kuda.

Jadi, saya mempunyai peraturan setiap saya akan dan selesai mengajar..”, ujarnya mengawali pembicaraan di awal tahun ajaran baru. Tahun ajaran baru saat saya duduk di bangku kelas 2.
Saya dan teman-teman baru saya terdiam karena guru-guru sebelumnya tidak ada yang membuat peraturan dalam belajar mengajar. Disamping itu, suara yang keras dan menggelegar menambah efek dramatis di awal tahun ajaran belajar mengajar ini. Maklum Ibu Sinambela merupakan keturunan suku Batak asli jadi walaupun seorang wanita namun suaranya ‘merdu’ hingga menciutkan hati semua murid-murid yang duduk dihadapannya.
Mengapa semua diam?”, bentaknya yang mengagetkan. Semua diam dan menunduk.
takut?...hehehe...”, ujarnya kemudian untuk mencairkan suasana. “Seperti yang sudah kalian ketahui, Saya akan mengajar pelajaran Bahasa Indonesia.pelajaran yang mudah bukan?, tanyanya lagi. Dan disambut sahutan mengiyakan secara bersamaan dari semua murid-murid tanpa terkecuali saya. Sehingga suasana ini menjadi lebih terkesan lebih santai.
Saya tidak sama seperti guru-guru yang lain, saya berbeda karena saya menginginkan murid-murid yang saya ajarkan berbeda dengan murid lain yang tidak dibawah kendali saya”. Memang terdengarnya seperti egois namun saya merasa ada sesuatu yang memang berbeda dalam cara mengajarnya dibandingkan rekan-rekan sejawatnya.
setiap saya akan mengajar, akan ada pertanyaan dari pelajaran sebelumnya. Kemudian, setelah selesai saya mengajar, setiap buku catatan harus dikumpul. Saya akan menilai kerapian dari buku catatan kalian.Mengerti? kalau masih gak ngerti hantukan kepalamu ke dinding”, ungkapnya.
mengerti ibu...”, jawab kami semua. Aduh, beliau ini cukup menyeramkan apalagi ini merupakan awal pertemuan. Belum ada 1 jam waktu belajar berakhir tetapi sudah sepperti setahun berada di ruang kelas ini. Masih ada setahun ke depan dengan perjuangan yang saya rasa akan berat nantinya tapi saya mendapatkan setahun kemudian. Priceless.

Seringnya Ibu Sinambela mengucapkan pernyataan “Kuhantukkan kepalamu ke dinding” bukan semata-mata ingin melakukan sebuah kekerasan dalam proses belajar mengajar namun beliau menginginkan murid-muridnya memotivasi dalam dirinya masing-masing untuk memahami pelajaran yang sudah diajarkan. Tidak hanya sekedar masuk dari telinga kanan keluar telinga kiri. Proses pentransferan pengetahuan juga tidak hanya sebatas pengenalan ataupun pengingatan. Oleh karena itu,  beliau menegaskan bahwa akan ada pertanyaan awal sebelum memulai pelajaran baru. Biasanya pertanyaannya dari pelajaran hari sebelumnya. Dan ini akan ditanyakan secara acak kepada beberapa murid. Apabila murid yang terpilih tidak bisa menjawab maka hukuman akan diberikan kepada semua murid. Biasanya menulis referensi novel atau karya tulis. Proses pemahaman merupakan kunci yang ditegaskan dari awal peraturan digulirkan Ibu Sinambela. Walaupun hanya sebuah pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi kalau tidak paham sama saja tidak berarti. Beliau juga menegaskan bahwa pemahaman juga harus diterapkan ke pelajaran lain walaupun dengan guru yang berbeda.

Sistem pendidikan kecil dari seorang Ibu Sinambela yakni tidak menghafal tetapi memahami, sehingga menjadikan semua murid-muridnya harus benar-benar memahami dahulu pelajaran yang sudah disampaikan sebelum memulai pentransferan pengetahuan yang baru. Beliau menginginkan semakin banyak bertanya semakin banyak dimengerti maka akan semakin paham. Beliau tidak menginginkan murid-muridnya menjadi seorang bangsa penghafal.

Saya menerapkan sistem pentransferan pengetahuan itu untuk pelajaran lainnya. Awal-nya sulit namun dengan pemahaman, ilmu pengetahuan yang kita terima tidak hanya sebatas ‘menempel saja’. Alhasil, di tahun ketiga tahun pendidikan saya di sekolah tersebut, saya masuk menjadi bagian dari kaum unggulan walaupun di kelas bayangan. Setidaknya motivasi awal saya terwujud. Ada hasil.

Namun sejalan waktu, bahwa menjadi bagian dari kaum unggulan di bidang akademis tidak hanya sekedar menambah arogansi saya semata. Tetapi akhirnya saya sara bahwa sebuah proses pentransferan pengetahuan itulah yang terpenting. Dimanapun dan dengan siapapun saya bisa mendapatkan pengetahuan, bahwa sebuah proses pentransferan itulah yang terpenting. Akhirnya.

Konsep “Kuhantukan kepalamu ke dinding” itulah yang menjadikan motivasi saya untuk belajar sebuah pengetahuan tidak hanya sebatas penghafalan. Apabila saya sudah paham, dengan adanya peng-hantukan kepala ke dinding saya jamin tidak akan hilang. Tidak lekang oleh waktu kecuali sebuah kematian. Saya semakin merasakan manfaat bimbingan dan dorongan dari seorang Ibu Sinambela ketika di tahun ketiga, saya tidak mendapatkan transferan pengetahuan untuk pelajaran Bahasa Indonesia dari Ibu Sinambela. Sistem pendidikan yang diterapkan setiap guru memang tidak sama tetapi dengan Ibu Sinambela saya masih dapat mengingat dan memahami apa yang sudah diajarkannya setahun yang lalu. Bahkan pengetahuan itulah yang menjadi tolak ukur setiap pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan oleh guru saya yang baru.

Sekolah saya yang ‘menurut mereka’ merupakan sekolah negeri terbaik memang tidak memiliki bangunan atau sarana infrastruktur yang mumpuni tetapi di sekolah ini, saya mendapatkan sebuah organik pendidikan yang terbaik yaitu Ibu Sinambela dan juga sistem pendidikan kecil yang diterapkan oleh beliau. Proses pentransferan pendidikan ala Ibu Sinambela. Namun, semua kembali lagi dengan rantai pendidikan. Jika institusi pendidikan tersebut sudah memiliki kemampuan yang baik, serta guru yang baik namun murid-muridnya tidak mampu menyerap dengan baik saat proses pentransferan pengetahuan maka pendidikan itu dianggap gagal. Akan tetapi, jika insitusi pendidikan itu hanya mampu menyediakan ala kadarnya namun mampu menyediakan guru dan sistem pendidikan yang baik serta proses pentransferan pengetahuan dapat diterima dengan baik maka pendidikan itu sudah berhasil.

Saya merasa mendapatkan sebuah kebanggaan mendapatkan kesempatan untuk mencicipi pentransferan pengetahuan yang diberikan oleh Ibu Sinambela. Karena tanpa beliau mungkin saya tidak bisa seperti sekarang. Tidak menganggap remeh sebuah pelajaran apapun termasuk Bahasa Indonesia. Karena sebuah bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu mengenal dan memahami bahasanya sendiri, Bahasa Indonesia. Di tengah gempuran sebuah modernnisasi dengan diharuskannya setiap murid untuk mengetahui dengan baik bahasa asing sebagai modal utama untuk bersaing dengan bangsa asing, namun akan hilang melenyap jika tidak dimantapkan dengan pengetahuan yang baik akan Bahasa Indonesia.

Saya merindukan sistem pendidikan itu, saya merindukan organik pendidikan itu, dan saya merindukan konsep pendidikan “kuhantukan kepalamu ke dinding” itu. Guru tidak hanya sekedar mentransferkan pengetahuannya kepada murid-muridnya tetapi guru juga harus memastikan bahwa pentransferan pengetahuan itu dapat diterima dengan baik oleh murid-muridnya. Sitem pendidikan ini ada di dalam jiwa salah satu dari seorang guru terbaik saya, Ibu Sinambela. Banyak murid yang pintar tapi hanya sekedar menghafal. Sungguh disayangkan, apabila hanya sekedar menghafal mungkin satu atau dua hari kemudian akan melupakan pengetahuan itu. Ironis.


Ps: Dedicated to my teacher “IBU SINAMBELA”
-mungkas-






With life, 


MKS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar